Kota Purwokerto adalah ibu kota Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia. Jumlah penduduknya 292.782 jiwa pada tahun 2014 [1] Berbagai julukan disandang kota di jalur selatan Jawa Tengah ini dari kota wisata, kota kripik, kota transit, kota pendidikan sampai kota pensiunan karena begitu banyaknya pejabat-pejabat negara yang pensiun dan akhirnya menetap di kota ini. Di kota ini pula terdapat museum Bank Rakyat Indonesia, karena bank pertama kali berdiri ada disini dan pendiri bank ini adalah Raden Bei Aria Wirjaatmadja putra daerah Purwokerto.
Makanan khas dari kota ini adalah
Mendoan khas Purwokerto
Mendoan, makanan yang terbuat dari tempe yang tipis/diiris tipis kemudian digoreng dengan tepung yang diberi bumbu dan digoreng setengah matang.
Tahu Brontak, makanan yang terbuat dari tahu yang diberi tepung, diberi bumbu dan digoreng. karena saat di goreng sayuran yang ada di dalam tahu pada keluar maka dinamai tahu berontak.
Kripik Tempe, prosesnya seperti mendoan tetapi digoreng sampai kering. Kota Kripik merupakan salah satu julukan dari kota Purwokerto.
Gethuk Goreng, sentra pembuatannya adalah Kec. Sokaraja, sebuah kota kecamatan di pinggir kota Purwokerto.
Keong Kuah Pedas, dengan bahan utama keong sawah yang dimasak berkuah dengan bumbu-bumbu kuat yang memberi nuansa pedas dan segar hingga ke tenggorokan. Biasa disebut juga dengan "kraca".
Dage, kudapan mirip kue yang berbahan dasar ampas kacang yang digumpalkan dan dijamurkan. Biasa disajikan berupa goreng tepung berbumbu dan disantap dengan cabe rawit atau "lombok cengis".
Semayi, lauk dari ampas kelapa yang dibumbui dan dipanggang di atas api kecil. Makanan yang menjadi simbol hidup melarat ini kini sudah amat-sangat susah ditemukan.
Tegean, adalah sebutan khas Banyumas untuk sup sayur berkuah bening yang tampak sangat sederhana namun sangat menyegarkan. Sayur-mayur berupa bayam, kecambah kedelai hitam, daun katuk, dan kedelai hitam butiran lazim menjadi unsur utama masakan ini. Untuk bumbunya, selain bahan-bahan yang lazim seperti bawang merah dan bawang putih, tegean juga bercirikan dengan "geprekan" kencur yang sangat menyegarkan.
Empal basah, berupa masakan berbahan dasar daging dan tetelan sapi yang dimasak dengan kuah santan yang kental. Kekhasan empal basah Banyumasan adalah adanya sensasi gatal dan geli yang ditimbulkan oleh campuran srundeng di dalam kuah kental tersebut. Empal basah sangat cocok dimakan dengan ketupat berkulit janur (jangan ketupat berkulit plastik).
Themlek, kudapan ringan dari ampas tahu berbumbu yang digoreng dengan adonan tepung. Makanan yang akan meninggalkan rasa seret di tenggorokan ini sudah semakin jarang ditemui.
Beberapa jenis makanan tradisional yang dikenal yakni: ranjem, mi thayel, timus, klanthing, sempora (awug-awug), utri, puli (ciwel), ongol-ongol, gebral, kluban, grontol, mireng, kamir, moho, golang-galing, lopis, ondol-ondol, widaran, angleng klapa, angleng kacang, rujak mentah, rujak mateng, ampyang, grebi, dampleng (mirip combro). soto
Baturraden adalah objek wisata alam yanga sangat terkenal di Purwokerto, Jawa Tengah. Terletak di sebelah utara kota Purwokerto tepatnya di lereng sebelah selatan Gunung Slamet, Baturraden meyajikan keindahan dan kesejukan alam pegunungan.
Udaranya yang sejuk dan hijaunya pepohonan, menjadikannya tempat favorit wisatawan yang ingin berlibur di alam terbuka saat berkunjung ke Purwokerto. Tak heran di kawasan Baturraden berjamur puluhan hotel dan losmen yang banyak dikunjungi oleh wisatawan, terutama saat weekend dan libur nasional.
Wisata Alam Baturraden (Sumber gambar: caraanoa.files.wordpress.com)
Nama Baturraden sendiri berasal dari kata Batur dan Raden yang dikenal sebagai legenda ‘Romeo & Juliet’ versi Banyumas. Batur adalah seorang pembantu seorang raja dan Raden adalah putri raja tersebut. Alkisah, karena terlalu cinta, keduanya melarikan diri kemudian menikah tanpa restu ayahnya. Setelah anak pertama mereka lahir, sang raja meminta putrinya kembali ke rumah, namun keduanya menolak kemauan sang ayah sehingga terjadilah pertempuran yang menewaskan Batur. Tidak sanggup melihat suaminya terbunuh, sang putri langsung ikut bunuh diri. Keduanya dimakamkan di lereng Gunung Slamet, itulah sebabnya area wisata ini dinamakan ‘Baturraden’.
Keindahan air mancur yang menjulang tinggi (Sumber foto: Dok.Pribadi)
Taman berhias bunga warna-warni (Sumber foto: Dok. Pibadi penulis)
Objek wisata ini terletak di patahan tebing lereng gunung dimana di tengahnya mengalir sungai kecil yang menyebar pada tebing bebatuan sehingga terlihat seperti air terjun mini. Disekelingnya terdapat area taman yang hijau asri berhias bunga warna-warni. Konturnya yang tidak rata dimanfaatkan dengan membagun jalur tangga untuk pejalan kaki sehingga sususannya terlihat apik. Di sebelah kiri taman juga terdapat sebuah air mancur buatan yang tinggi menjulang yang menjadi daya tarik sendiri bagi pengunjung. Selain taman-tamannya yang indah juga terdapat fasilitas lainnya seperti pemadian air panas Pancuran Telu, area bermain anak, wahana sepeda air, mobil genjot, kolam renang dll. Taman yang tertata apik, sejuknya alam pegunungan serta menjamurnya hotel di area wisata ini menjadi daya tarik untuk menikmati keindahan alam yang disuguhkan oleh Baturraden.
https://www.portalwisata.com/baturraden/
baturaden merupakan agrowisata yang memanfaatkan pertanian untuk menunjang sebuah daerah dan sumber daya manusianya
Pupuk media tanam atau pupuk yang
diaplikasikan pada media tanam adalah pupuk yang digunakan untuk memenuhi
kebutuhan unsur hara dalam media tanam. Pentingnya mengaplikasikan pupuk pada
media tanam dikarenakan bagian akar tanaman merupakan jalur utama bagi tanaman
guna memenuhi kebutuhan nutrisinya secara keseluruhan. Oleh sebab itu, nutrisi
yang terdapat pada pupuk media tanam, biasanya bersifat makro (NPK). Sedangkan,
pengaplikasian pupuk pada daun (foliar feeding) lebih ditujukan untuk
melengkapi kekurangan unsur hara / nutrisi tanaman yang bersifat mikro.
Dulu, saya berpikir, seandainya
kebutuhan nutrisi makro bagi tanaman dibuat dalam bentuk cair, tentu akan lebih
memudahkan saya melakukan aktivitas berkebun. Cukup dengan menuangkan pupuk
cair ke dalam sprayer dan menyemprotkannya di atas permukaan media tanam maka
urusan memenuhi kelayakan nutrisi media tanam sudah terselesaikan selama
periode jangka waktu tertentu.
Berangkat dari ide tersebut, eksperimen
demi eksperimen saya kerjakan untuk mendapatkan satu bentuk pupuk cair yang
dapat memenuhi kebutuhan nutrisi makro media tanam. Tentu saja, eksperimen
tersebut hanya sebatas kemampuan seorang awam. Saya tidak memiliki perlengkapan
atau pengetahuan khusus di bidang ini. Semua itu hanya dilandasi rasa
keingintahuan saja.
Bukankah judul artikel ini
memberikan gambaran tentang ulasan pupuk organik padat untuk media tanam?
Mengapa pembahasan beralih ke arah eksperimen membuat pupuk cair?
Jika di perhatikan, ada dua macam
produk pupuk sintesis untuk media tanam yang beredar di pasaran, yaitu padat
dan cair. Sedangkan produk pupuk organik untuk media tanam, cenderung hanya
dalam bentuk padat saja. Saya sendiri tidak pernah menemukan peredaran produk
pupuk organik cair untuk media tanam di pasaran. Pupuk organik cair yang umum
beredar adalah untuk diaplikasikan pada permukaan daun.
Sulitnya menemukan pupuk organik
cair untuk media tanam memberikan kontribusi rasa penasaran cukup besar di diri
saya. Sebagaimana saya nyatakan di atas, seandainya memang pupuk seperti itu di
produksi, sudah tentu akan lebih mempermudah dalam tindak perawatan tanaman,
khususnya menjaga kecukupan nutrisi makro di media tanam. Dari eksperimen
membuat pupuk organik cair yang saya telah kerjakan, saya mendapatkan ada
beberapa kondisi mendasar yang menjadikan alasan pupuk organik cair untuk media
tanam tidak pernah saya temukan di pasaran.
Jadi, tidak ada pengalihan dari
pokok pembahasan mengenai pupuk organik padat untuk media tanam. Berdasarkan
pengalaman dari hasil eksperimen membuat pupuk organik cair, saya hanya
mencoba menyajikan gambaran yang paling mendekati realita dari pentingnya
keberadaan pupuk organik dalam bentuk padat untuk media tanam.
Nutrisi makro yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan tanaman terdiri dari beberapa unsur (artikel Nutrisi untuk Tanaman), namun ada tiga
unsur utama yang mutlak tersedia keberadaannya dalam masa proses tumbuh-kembang
tanaman. Yaitu : Nitrogen (N), Fosfor (P) dan Kalium (K). Ketidakseimbangan
ketersediaan ketiga unsur tersebut akan berakibat terganggunya proses
tumbuh-kembang tanaman.
Akar merupakan bagian tanaman yang
berfungsi untuk menyerap dalam jumlah besar ketiga unsur tersebut. Jadi, sudah
dapat dipastikan bahwa peredaran ketiga unsur hara itu lebih dominan di area
sekeliling akar atau tanah atau media tanam. Ada dua cara yang biasa dilakukan
untuk menjaga kecukupan ketersediaan nutrisi makro dalam tanah, yaitu dengan
mengaplikasikan pupuk padat sintesis dan organik.
Pada pupuk sintesis padat, unsur
hara yang dihasilkan sudah dalam bentuk unsur itu sendiri, tidak ada proses
penguraian. Pupuk akan terkikis dengan sendirinya secara bertahap dan bisa
langsung diserap akar. Dengan demikian, waktu penyerapan unsur hara oleh akar
tanaman berlangsung dalam waktu relatif singkat setelah pupuk diaplikasikan.
Kondisi proses yang sama, juga berlaku pada beberapa jenis bahan pupuk organik
padat. Namun, mayoritas pupuk organik padat memerlukan waktu untuk proses
penguraian. Sehingga, unsur hara baru bisa diserap tanaman setelah terjadi
proses penguraian.
Kelebihan dari pupuk organik padat
adalah bahan organik yang menjadi bahan dasar untuk pupuk itu sendiri. Baik
dalam keadaan masih baru atau pun sudah menjadi ampas, bahan organik tersebut
dapat dikonsumsi oleh mikro organisme di media tanam. Sehingga masa
ketersediaan unsur hara menjadi lebih lama dibanding dengan pupuk sintesis.
Dengan tersedianya makanan bagi mikro organisme ini, secara otomatis akan lebih
mengaktifkan aktivitas mikro organisme dalam media tanam. Aktivitas mikro
organisme ini berdampak terhadap kuantitas ketersediaan unsur hara dalam media
tanam tempat mereka tinggal.
Kekurangan terbesar dari pupuk
organik padat adalah tidak semua bahan organik yang menjadi dasar utama pupuk
memiliki komposisi unsur hara yang sama. Bahan yang berbeda, memiliki kandungan
berbeda pula. Selain itu, tingkat kepadatan bahan juga menentukan lamanya waktu
penguraian. Semakin keras, semakin lama waktu penguraian yang dibutuhkan.
Kondisi ini menjadi semakin rumit karena bahan organik yang sama belum tentu
memiliki kandungan nutrisi / unsur hara yang sama.
Ketidakseragaman kandungan nutrisi
dan waktu yang dibutuhkan untuk proses penguraian menjadikan pupuk organik
padat sulit diandalkan untuk memenuhi kebutuhan tanaman akan nutrisi tertentu
dalam waktu yang relatif singkat sebagaimana pupuk sintesis padat. Walaupun
kondisi bahan yang sulit terurai dapat diatasi dan dipersingkat dengan
menjadikan fisik bahan organik dalam bentuk lebih kecil (serpihan / butiran),
tetap saja dibutuhkan waktu untuk serpihan / butiran itu akhirnya bisa terurai.